Harga Diri Perawat Honorer Mamuju Kian Terabaikan Tanpa Pengakuan

0
721
Perawat Honorer Demo
Ket.Foto: Seorang Perawat Membawa Spanduk “Gaji Kok Main-Main".

KLIKSULBAR.id – MAMUJU, Akhir – akhir ini, profesi keperawatan gencar dibicarakan. Terutama mereka yang menyandang gelar sebagai perawat sukarela, honorer dan kontrak di instansi pelayanan Pemerintah Kabupaten Mamuju.

Bisa dibilang, tugas dan tanggung jawab mereka berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan. 

Perawat sukarela, honorer dan kontrak di kantor pelayanan kesehatan Mamuju baik Puskesmas maupun rumah sakit seolah menjadi tenaga medis cadangan dan terkesan dianak tirikan di daerah sendiri dengan gaji yang jauh dari kata layak.

Jika dulu profesi perawat selalu didambakan banyak orang, maka sekarang harga diri perawat kian terabaikan tanpa pengakuan.

“Perawat bekerja secara terus-menerus selama 24 Jam, 2-3 Shift dengan segala resiko yang mengancam seperti tertular penyakit hingga ancaman kematian,” ungkap Anggota Gerakan Nasional Perawat Honorer Indonesia (GNPHI) Mardin saat ditemui di Warkop 12 Mamuju, Sabtu (8/12/2018).

Hal ini semakin diperparah dengan upah yang mereka terima jauh dari kata layak dan resiko kerja mereka.

“Ada banyak sekali kasus yang menyangkut kesejahteraan perawat di rumah sakit dan puskesmas,” ucapnya.

Mereka yang menyandang gelar honorer dan sukarela bahkan lebih parah sebab hanya dibayar 300-500 ribu per 3 bulan (ada juga yang di bawah angka itu). Artinya dalam sehari, mereka mendapat gaji sebesar 500 rupiah.

Fenomena ini tidak hanya berbanding terbalik dengan kerja dan tanggung jawab seorang perawat, melainkan juga biaya yang digelontorkan semasa kuliah.

Perawat Honorer Demo
Ket.Foto: Ratusan Tenaga Perawat Honorer dan Sukarela Tiba Digerbang Kantor Bupati Mamuju.

“Belasan tahun kami bertahan mengabdikan diri dengan upah seperti dan beraharap jauh hai bisa lebih baik,” katanya.

“Coba renungkan, gaji yang kami terima tidak sebanding dengan sekolah kami selama ini dan apa cukup upah empat ratus ribu rupiah untuk menafkahi keluarga kami,?” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Mereka tentu mengharap tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Alih-alih memberikan solusi, sekarang ini, perawat yang tidak mengikuti ujian kompetensi dan memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) tidak akan bisa bekerja meski sudah memiliki ijazah.

Di tengah maraknya bencana yang menimpa bangsa kita saat ini, perawat adalah ujung tombak yang setia menangani para korban di garda terdepan.

Tak elok rasanya jika kerja-kerja ikhlas keperawatan justru dibalas dengan praktek berbentuk perbudakan modern (modern slavery) oleh pemangku kebijakan. (/*FA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here