Prolog Kejadian Kekerasan Aparat Kepolisian Terhadap Sejumlah Mahasiswa dan Aktivis FPPI

0
503

Siaran Pers

Sejak dimulainya proyek neoliberalisme, institusi keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF telah menjadi salah satu penyokong utama. Berbagai bantuan hutang dan intervensi perubahan kebijakan oleh Bank Dunia dan IMF telah menjadi motor perampasan ruang hidup dan hak-hak dasar rakyat. Kedua lembaga yang dipromosikan menjadi bank pembangunan yang dapat mendorong dunia yang lebih sejahtera dan adil justru menjadi sumber ketidakadilan dan meningkatnya ketimpangan kesejahteraan antar Negara dan kelompok.  

Gerakan rakyat Sulawesi Barat melawan pada hari sabtu, 22 September 2018, merupakan aksi menolak segala bentuk intervensi Bank Dunia terhadap Indonesia melalui berbagai proyek dan hutangnya. Aksi tersebut untuk mendesak Bank Dunia segera mengakhiri segala kegiatannya di Indonesia tanpa perlu negosiasi lagi.Bank Dunia tak lain adalah topeng baru untuk praktik usang. 

Sampai saat ini Bank Dunia merupakan kontributor utama kebijakan dan proyek pembangunan yang melanggar HAM dan merusak lingkungan. Situasi dimana Bank Dunia terus bebas beroperasi dengan kekebalan mutlak tidak dapat dibiarkan, lembaga ini harus bertanggung jawab atas berbagai krisis sebagai dampak dari model pembangunan yang kotor dan menghisap. 

Foto.Dok: Farid Aljawani

Aksi tersebut juga sekaligus mengingatkan rakyat Indonesia bahwa jejak perampasan ruang hidup dan hak-hak dasar rakyat telah tercetak dalam ingatan rakyat di berbagai wilayah yang menjadi korban dari model pembangunan yang disodorkan oleh Bank Dunia dan IMF.

Namun dalam aksi disimpang lima Tugu Tani Jl.poros trans sulawesi tersebut para pendemo telah mendapat perlakuan kekerasan oknum aparat kepolisian resort Mamuju pada saat kawan-kawan melangsungkan aksi demo dengan tema Gerakan Sulawesi Barat Melawan Neokolonialisme dan Neo imperialisme yang berujung pada pembubaran paksa oleh aparat kepolisian hingga menyebabkan sejumlah aktivis Front Prjuangan pemuda Indonesia mengalami luka-luka.

Berikut adalah kronologi aksi hingga terjadi kekerasan terhadap mahasiswa yaitua awal mula berangkat dari secretariat pukul 15:00 lewat kemudian menuju titik aksi di bundaran simpang lima dengan long march dan membawa beberapa perangkat aksi.

Sesmpainya dititik aksi barisan massa langsung dirapatkan kemudian berorasi secara bergantian dalam aksi kami situasi dan kondisi dilapangan awalnya baik baik saja jalur kendaraan tidak tertutup full sehingga pengendara bisa lewat namun setelah beberapa saat menjalankan aksi pihak aparat kemudian meng intruksikan untuk bubar kemudian kami bernegosiasi untuk meminta waktu 15 menit lagi akan tetapi belum sampai waktu lima belas menit aparat kepolisian sudah mendesak untuk mundur dan meminta agar aksi segera diselesaikan.

Foto.Dok: Farid Aljawani

Tiba-tiba salah satu dari oknum polisi masuk kebarisan massa aksi dan merebut perangkat aksi yaitu bendera fppi jelas itu membuat provokasi massa kami dan mengganggu jalannya aksi kami dengan secara otomatis kawan-kawan massa aksi juga mulai bereaksi akan hal itu kemudian gesekan terjadi dengan aparat hingga terjadi kekerasan terhadap massa kami yang menyebabkan terjadinya luka-luka akibat dari tendangan, pukulan, ada pula yang di seret ke dalam mobil untuk di amankan di kantor polres akibat dari bentrokan tersebut kawan kawan kami mengalami luka atas nama:

  1. Arifuddin dengan luka di lutut
  2. Fandi  dengan luka memar pada wajah
  3. Niirwansyah dengan luka cakar di pipi kiri,leher bengkak akibat di cekik,rambut dijambak
  4. Dan Seorang Perempuan Atas nama Rini kena pukulan pada lengan kanan

Setelah keadaan mulai tenang kemudian kami meminta lima menit untuk aksi dilanjutkan dan membacakan tuntutan setelah membacakan tuntutan barisan massa aksi membubarkan diri dengan tertib kemudian kembali kesekretariat sejenak beristirahat.

Lalu pada tanggal 23 September 2018 sekitar jam 11:30 menuju rumah sakit untuk melakukan visum untuk persiapan melaporkan ke propam polda sulbar untuk segera di tindak sesuai hokum yang berlaku dengan begitu juga kami melakukan konsolidasi ke seluruh jaringan-jaringan FPPI dan gerakan-gerakan mahasiswa serta organisasi kepemudaan yakni FPPI, PMII, BEM PERTANIAN, KOMKAR, MAPER untuk melakukan aksi selanjutnya menyikapi kekerasan aparat terhadap mahasiswa dan mengecam tindakan aparat kepolisian yang bertindak layaknya preman. 

Adapun tuntutan aliansi:

  1. Mendesak kapolri untuk mencopot kapolda sulbar dan kapolres mamuju karena gagal membina aparatnya sehingga melakukan tindakan refresif kepada mahasiswa sehingga terluka
  2. Negara mesti menjamin kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum sesuai amanat undang-undang
  3. Tangkap dan adili secara tegas sesuai hukum para oknum polisi yang melakukan kekerasan pada mahasiswa aktivis fppi mamuju secara transparan ke public dan tuntas
  4. Meminta agar kekerasan terhadap aktivis petani dan nelayan serta buruh agar dihentikan aparat
  5. Tolak utang baru hapus utang lama
  6. Tolak pertemuan IMF di bali
  7. Mengajak kepada seluruh elemen demokrasi untuk terus mengkonsolidsikan diri menyuarakan keadilan social bagi masarkat Indonesia dan menuntut aparat yang berlaku refresif dan melanggrar hukum di adili
  8. Mengutuk kekerasan aparat kepolisian di mamuju terhadap aktivis fppi mamuju
  9. Kami berharap tuntutan kami dipenuhi dan kami akan mengawal kasus kekerasan terhadapt aktivis fppi di tuntaskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here