MUI Keluarkan Fatwa Vaksin Rubella Hukumnya “Mubah”

0
160
Ket.Foto: Kepala Bidang Binmas Islam Kementrian Agama Sulawesi Barat, DR.Misbahuddin,S.Ag.,M.Ag.

KLIKSUlBAR.ID – MAMUJU, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang penggunaan vaksin measless rubella (MR) untuk imunisasi.

MUI menyatakan, pada dasarnya vaksin yang diimpor dari Serum Institute of India (SII) itu haram karena mengandung babi. Namun, penggunaannya saat ini dibolehkan karena keterpaksaan.

“Dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi,” kata Kepala Bidang Binmas Islam Kementrian Agama Sulawesi Barat,DR.Misbahuddin,S.Ag.,M.Ag. Selasa   (28/8/2018)

“(Tetapi) penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute of India, pada saat ini, dibolehkan (mubah),” ucapnya.

Hal tersebut dibolehkan untuk sementara karena adanya tiga alasan MUI.

Pertama, adanya kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah). Kedua, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. Ketiga, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi vaksin MR.

“Secara institusi kementrian agama belum mengeluarkan pendapat mengenai itu, Insya Allah dalam waktu dekat dari arahan bapak menteri agama melalui Dirjen Binmas Islam terkait dengan fatwa MUI ini,” katanya.

“Kami juga mengacu kepada fatwa MUI bahwa penggunaan Vaksin MR sepanjang itu darurat dan belum ditemukan vaksin yang halal maka itu dibolehkan (mubah) dan jika ditemukan vaksin yang halal maka ke–mubahannya hilang,” tutupnya.

 

Berikut Fatwa MUI NO 33 Tahun 2018

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 33 Tahun 2018 Tentang

Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) Produk Dari SII (Serum Institute Of India) Untuk Imunisasi.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT.

Memutuskan: 

Menetapkan: Fatwa Tentang Penggunaan Baksin MR (Measles Rubella) Produk Dari SII (Serum Institute Of India) Untuk Imunisasi

Pertama: Ketentuan Hukum

  1. Penggunaan Vaksi yang memanfaatkan unsur babi dan turunanya hukumnya haram.
  2. Penggunaan vaksin MR Produk dari serum Institute Of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan baham yang berasal dari babi.
  3. Penggunaan Vaksin MR produk dari serum institute of india, pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena:

a. Ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah)

b. Belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci.

c. Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

  1. Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci

Kedua: Rekomendasi

  1. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.
  2. Produsen vaksin wajib menupayakan produksi vaksin yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan.
  3. Pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan.
  4. Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.

Ketiga: Ketentuan Penutup

  1. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata membutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
  2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di: Jakarta, Pada Tanggal 08 Dzulhijjah 1439 H Atau 20 Agustus 2018 M

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.

  1. Prof.DR.H.Hasanuddin AF., MA (KETUA)
  2. DR.H.ASRORUN NI’AM SHOLEH,MA (SEKRETARIS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here