Bulan Kedua

0
484

              Pernah berpikir bahwa hidup ini adalah sebuah bencana ? Bahwa kau terlahir dari keluarga yang salah ?  Bahwa kau berada dalam labirin hidup yang memusingkan dan kau tak tahu jalan agar bisa keluar dari labirin itu ? Mungkin itu yang saat ini berputar di kepalaku. Aku yang tak pernah merasakan artinya bahagia yang nyata, hingga aku hanya bisa duduk terpekur di kursi taman memperhatikan bagaimana anak-anak manis sedang bermain bersama ibu mereka.

Tak terasa air mataku mulai menjalar dikedua pipiku, meresapi luka yang semakin dalam ku rasakan dan tak sanggup lagi membendungnya sendiri. Hingga matahari kemabli diperaduannya, aku masih setia duduk dibangku taman ini. Tiba-tiba terdengar dering dari ponselku “ting”, sebuah pesan singkat dari Imamku, pahlawanku, surgaku, dari suamiku tang telah menanggung jawabiku selama dua bulan terakhir ini,

“Assalamualaikum bidadariQ, kapan balik ? tidakkah kau bosan melihat mentari bahkan suamimu ini jauh lebih cakep ?”. Seandainya kami berada di kondisi yang baik, mungkin aku akan tersenyum penuh bangga dan langsung pulang ke rumah dan bergulung mesra dengan suamiku, tapi justru aku malah merasakan pedih dihatiku yang berhasil membuat tangisku semakin pecah dan tak bisa kubendung lagi, sang surya yang kemabli diperaduannya membuatku semakin sakit dan luka itu makin terasa pedih dan menancap didadaku, aku sakit, sakit ketika malam tiba. Dia pekat, gelap, sunyi, mencekam dan penuh kepalsuan, aku merindukan pagi, dimana ketika pagi tiba cahaya akan menyambutku dan membuatku bahagia bahwa aku telah melewati satu malam lagi.

“Waalaikum salam warahmatullah, iya kak, sebentar lagi aku pulang.”. Kubalas pesan singkat suamiku dan aku bergegas berdiri dan memperbaiki jilbab serta gamisku untuk segera pulang ke rumah. Suara sholawat lamat-lamat terdengar di masjid, hingga tiba didepan rumah, suara adzan telah terdengar. Aku berdiri didepan rumah, rumah sederhana berukuran 8 x 10 meter dengan taman bunga yang luas. Kuberjalan perlahan memasuki rumah dan memberi salam,

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam, kok baru pulang dek ? Ini sudah selesai adzan loh, cepat-cepat ambil wudhu lalu kita jamaah sama-sama ya !” kata suamiku. Tanpa membalas ucapannya, akupun segera menuju kamar mandi dan mengambil wudhu untuk sholat berjamaah dengan suamiku, Imamku, yang menuntunku menuju jannah-Nya.

—–

“Assalamualaikum warahmatullah”, kuakhiri sholat maghribku ini dengan salam. Kulihat suamiku yang berada didepanku sedang berdzikir dan larut dalam doanya dengan sang pencipta. Akupun demikian, turut terpekur memohon ampunan kepada Allah atas semua dosa yang telah kuperbuat, doa keselamatan kepada kedua orang tuaku, hingga aku memohon ampun atas semua dosaku kepada imamku yang sedang berdoa didepanku, dosa yang bahkan telah kulakukan semenjak aku sah menjadi istrinya.

“Kok nangis sayang ? kamu sedih kenapa ? aku kurang ngasih uang jajan ya ? hehehe” suamiku dengan cengengesan yang membuatku ikut tersenyum, aku hanya menggeleng dan untuk pertama kalinya aku merasa takut melihat suamiku, Kak Fadli yang hari ini tepat membawaku dipintu bulan kedua pernikahan kami dan untuk pertama kalinya aku merasa takut terhadap kak Fadli dan untuk pertama kalinya aku merasa bahwa suamiku akan menjadi monster untuk malam ini.

Aku sedang berbaring diatas tempat tidur kami, tak mampu memejamkan mata, takut bila hal yang kutakutkan selama ini benar-benar terjadi. Aku telah memasuki bulan kedua dipernikahan kami namun bahkan hingga mala mini aku belum menjadi istri yang sesungguhnya dalam biduk rumah tangga kami. Aku belum memberikan suamiku haknya yang bahkan harusnya telah ia dapatkan bahkan dihari pertama kami menikah. Kudengar langkah kaki suamiku dari luar kamar, aku langsung mengambil posisi menyamping dan menutup wajahku dengan selimut, hingga kudengar suamiku naik tempat tidur dan berkata,

“Aku tau kamu belum tidur princess”, dan kurasakan lengan suamiku memelukku dengan erat, berusaha membangunkanku, dan akhirnya aku menyerah juga dan malam ini, tepat memasuki bulan kedua pernikahan kami, suamiku mendapatkan haknya dariku.

Dan pagi ini kulihat suamiku melihatku dengan eksperesi dinginnya, dia masih mencium keningku dengan dingin, tak seperti biasanya bahkan ia berangkat kerja tanpa meminum kopi tanpa gula buatanku. Pagi inipun aku tau bahwa suamiku marah, marah atas apa yang ia dapatkan semalam, marah atas kenyataan pahit bahwa istrinya sudah tidak perawan lagi saat menikah dengannya.

—–

Pagi ini pagi ketujuh suamiku tak pulang ke rumah, pagi ini aku bertekad untuk menemui suamiku dikantornya, meskipun aku yakin pasti suamiku tak akan menemuiku lagi seperti beberapa hari ini saat aku menemuinya dikantor. Pagi ini juga aku bertekad meminta maaf, menjelaskan semuanya dan membuat suamiku kembali ke rumah.

Pagi ini aku menonton berita di TV tentang perjuangan saudara seimanku di Palestina, ratusan bom yang dikirimkan pasuka Israel  membuat gedung-gedung hancur dan membuat jatuh korban jiwa, wanita dan anak-anak menjadi korban terbanyak, kembali ku meneteskan air mata, membayangkan pedihnya perjuangan mereka, perjuangan mempertahankan ke-Tauhid-an mereka kepada sang Khalik. Ini membuatku sadar bahwa aku juga harus berjuang, memperjuangkan pernikahanku dengan suamiku.

Aku menunggunya didepan kantornya, semenjak jam 10 pagi. Aku masih melihatnya berada disekitar kantor, dia melihatku, tapi mengabaikanku. Hingga pada pukul 12 siang, saat jam istirahat kantor, suamiku keluar menemuiku,

“Untuk apa kamu kesini, Ulfa Nadia ?” untuk pertama kalinya kudengar suamiku menyebut nama asliku selama pernikahan kami, yang membuatku sadar bahwa ia sedang marah besar. “Kak, pulanglah, kumohon, aku tahu aku salah, tak menjelaskan semuanya sejak awal, tak jujur atas apa yang terjadi padaku”, aku terisak dan suamiku membalikkan badannya, menatapku “Kak, malam itu mereka menculikku, mereka dibawah pengaruh alkohol, mereka menyeretku tanpa perikemanusiaan dan mereka merebutnya kak… merebutnya.. merebutnya dariku, sungguh kak, sunggg…” aku tak mampu lagi melanjutkan kalimatku dan yang terakhir kali kulihat adalah wajah suamiku yang khawatir dan segera memelukku sebelum ku jatuh hingga kegelapan menyergapku.

—–

Yang pertama kali kulihat adalah langit-langit kamar yang berwarna hijau, aku melirik kesamping kananku, kulihat suamiku setengah tertidur sambil duduk disampingku dan yang paling membuatku tersentuh adalah kulihat suamiku sedang menggenggam erat tanganku.

“Kak..”, “Ya sayang !”, suamiku menjawab, “Maafkan aku, aku benar-benar…” aku tak melanjutkan kalimatku, suamiku meletakkan telunjuknya didepan bibirku “sudahlah princess, semua sudah berlalu, maafkan aku yang mengabaikanmu, sampai-sampai matamu yang indah ini tak bercahaya lagi”. Suamiku melarangku menceritakan peristiwa saat aku diperkosa preman yang sedang mabuk saat aku pulang bekerja, namun aku tetap saja menceritakannya, hingga saat aku selesai menceritakannya, ia berkata,

“Andai saja kita dipertemukan lebih awal princess tak akan kubiarkan seorangpun menyentuh kulitmu”, kulihat suamiku mengepalkan tangannya dan menutup mata, “Oh ya princess, bolehkah suamimu ini minta sesuatu ?” “Apa itu kak ?” balasku, “Bolehkah aku meminta kopi tanpa gula buatanmu ? aku tak pernah minum kopi semenjak aku pergi dari rumah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here